Moment hari kartini membuat
perbincangan mengenai perempuan kembali mengemuka. Perempuan,
semenjak pertama kali diciptakan, memang selalu menorehkan cerita
yang luar biasa pada bentangan sejarah. Entah itu cerita pilu akan
ketertindasannya atau cerita haru ketika jiwa dan raganya yang penuh
kelembutan mampu mengukir sebuah prestasi yang gemilang.
Sejarah mencatat bahwa dulu perempuan
pernah dipandang sebelah mata. Dijadikan pemuas nafsu semata bahkan
dibunuh karena dipandang aib hingga kehadirannya tak diinginkan. Di
lain kisah kita juga menemukan bahwa ada perempuan-perempuan hebat
yang namanya harum sampai saat ini. Sebut saja Maryam, Asiah,Aisyah,
Fathimah, kita juga mengenal Raden Dewi Sartika, Cut Nyak Dien.
Di Indonesia sendiri, perjuang R.A
Kartini dijadikan acuan pagi kaum feminism untuk terus menggaungkan
isu kesetaraan gender. Faham feminism ini tentu bukan berasal dari
islam, faham feminism berasal dari barat, dimana para kaum
perempuannya merasa tidak puas dengan kondisi mereka saat itu.
Akhirnya mereka berkeinginan setara dalam hal apa pun dengan
laki-laki. Baik di lapangan pekerjaan dan kursi pemerintahan sekali
pun.
![]() | |
| Inikah kesetaraan gender? |



