Setelah
pilpres usai, saya pikir berbagai perseteruan usai sudah. Media
sosial maupun elektronik segera bersih dari berbagai hujatan, hinaan,
fitnah keji dan sikap merasa paling baik. Duh! Ternyata, malah
semakin panas dan menyala-menyala. Hasil quick qount yang diberitakan
lembaga survei ternyata berbeda. Beberapa memenangkan nomor 1 dan
beberapa memenangkan nomor 2. Hal ini tak pelak mengundang reaksi
yang beragam dari pasangan capres-cawapres, elite partai, simpatisan,
sampai rakyat biasa. Hasil quick qount yang berbeda, membuat
masing-masing kubu mengklaim dirinyalah yang menang dan lawannya yang
kalah. Kalau pun ada lembaga survei yang memenangkan lawannya, mereka
menganggap pasti ada kecurangan. Mulai lagi deh, mencari kesalahan
dari pihak lawan.
Saya
pusing, * bukannya acuh dengan nasib bangsa sendiri, tapi bolehkah
saya bertanya kepada tuan-tuan yang katanya menjunjung tinggi
demokrasi, mana buktinya kalau demokrasi itu musyawarah mufakat? Mana
buktinya kalau demokrasi itu menghormati suara terbanyak kalau
masing-masing ingin menjadi pemenang dan melakukan segala cara untuk
menang?






