Minggu, tanggal 7 April yang lalu, saya mendapat
kabar bahwa sahabat saya, Teh Iyen namanya, telah meninggal dunia.
Innalillahi wa innailaihi roji'un. Saya terkejut bukan main. Enggak
nyangka sama sekali jika Teh Iyen akan kembali padaNya di usia yang
masih sangat muda. Saya rasa usianya belum menginjak 30 tahun. Dia baru menikah sekitar 1 tahun yang lalu. Saya
mengenalnya karena kami sama-sama tergabung dalam Majelis Taklim Remaja Bilkis
yang diasuh oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Tak lebih satu tahun kami
bersama. Bareng-bareng membuat acara untuk remaja dan ikut serta
dalam beberapa kepanitiaan dauroh. Teh Iyen ini, orangnya pendiam,
kurang lebih sama seperti saya. Hal positif yang saya lihat darinya
adalah dia tak pernah mengeluh jika diamanahi tugas apapun. Dan satu
hal lagi, dia orangnya tak malu bertanya akan hal-hal apa saja yang belum
dia ketahui.
17 April 2013
6 April 2013
KRL ekonomi : Haruskah Pensiun Dini?
Seperti pemberitaan yang dilansir media akhir-akhir ini, KRL ekonomi rencananya akan diberhentikan pengoperasiaannya. Alasan yang dikemukakan PT KAI cukup masuk akal. Biaya operasional KRL ekonomi cukup tinggi sementara pemasukan yang diperoleh PT KAI sangatlah minim. Akibatnya, pengeluaran PT KAI membengkak. Menurut PT KAI lagi, subsidi yang diberikan pemerintah nyatanya tidak menutupi seluruh biaya operasional. Alih-alih menguntungkan PT KAI, pengoperasiaan KRL ekonomi malah membebani.3 April 2013
Catatan Ummi Kece #3
KETIKA SI KECIL SAKIT
Sehat adalah salah satu nikmat yang
sering lupa untuk kita syukuri. Padahal, ketika kesehatan itu diambil
barang 1 hari saja, banyak hal-hal positif yang tak bisa kita
lakukan. Tapi, sakit juga bisa menjadi wasilah kedekatan kita
dengan Sang Pemilik Kehidupan manakala kita bersabar dengan kesakitan
yang kita rasakan. Atau manakala kita sehat kita alpa untuk
mengingatNya. Baru deh, pas sakit rajin ibadahnya (pengalaman).
Nah. Dalam postingan kali ini, saya
hanya ingin berbagi pengalaman saya ketika Khoiry terserang demam.
Ternyata kita lebih merasa khawatir ketika anak sakit dibandingkan
ketika kita sendiri yang sakit. Saya kalang kabut. Dan berusaha
melakukan hal terbaik untuk merawat anak saya. Saat itu, tanggal 3
Januari 2013, bada dzuhur, saya pegang kepala Khoiry, temperaturnya
sedikit hangat. Saya biasa saja karena Khoiry memang terkadang hangat
kepalanya. Namun saya mulai mengkhawatirkan kondisinya, karena
setelah itu Khoiry tidak aktif bermain seperti biasanya. Bahkan dia
tambah rewel dan minta digendong terus. Setelah magrib panasnya makin
tinggi. Karena di rumah belum punya termometer, akhirnya saya hanya
mengira-ngira berapa panasnya. Catatan untuk para Bunda, sebaiknya
punya termometer di rumah agar bisa tahu suhu badan si kecil ketika
sakit yaaaa. Jangan kayak saya *plaaaak. Perhitungan saya, pasti
panasnya sudah mencapai 37 derajat. Saya mencoba menangkan diri saya
dulu and be positif thinking. Si kecil baik-baik saja.
Kata-kata itu yang terus saya rapalkan. Saya kemudian mengompresnya
dengan air hangat untuk mengurangi suhu di permukaan kulit.
Sayangnya, Khoiry malah berontak. Tidak mau dikompres. Lap kompres
kerap kali ditariknya kemudian dilempar. Saya coba membujuknya dengan
mengeyong-ngeyongnya (*halaaaah apa pula bahasa Indonesianya
mengeyong?) ketika dia protes dan ngambek. Akhirnya dia diam untuk
beberapa menit dan mau dikompres.
2 April 2013
Dua
Dua tahun bukan waktu yang sebentar bagi kita untuk merangkum semua rasa, entah itu sedih, bahagia, gundah, kecewa, haru, putus asa dan bangga menjadi sebuah penerimaan yang sempurna.
Kita bersama tapi kita berbeda. hanya satu persamaan kita, yaitu keinginan untuk hidup bersama di surgaNya
Kita bersama tapi kita berbeda. hanya satu persamaan kita, yaitu keinginan untuk hidup bersama di surgaNya
Catatan Ummi Kece #2
Qada Seorang Anak
Berbicara qada dan qadar, menurut apa
yang saya pahami, qada adalah takdir dari
Allah SWT yang dengannya kita tidak
akan dimintai pertanggungjawaban. Misalnya jenis kelamin, bentuk
fisik seseorang, dan warna kulit. Sedangkan qadar adalah takdir Allah
yang dengannya kita akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini
menyangkut pilihan-pilihan apa saja yang kita ambil selama hidup.
Jujur atau bohong? Amanat atau khianat? Terpuji atau tercela? Pacaran
atau nikah? Kopi atau susu? *eh
Memang kerap terjadi perdebatan tentang
definisi qada dan qadar ini, tapi yang jelas, yang menjadi kewajiban
kita adalah mengimaninya karena beriman pada qada dan qadar termasuk
ke dalam rukun iman yang enam. (eh, bukankah sebelum beriman kita
harus paham dulu? Nah lo!)
Langganan:
Postingan (Atom)
