“Ah,
anak saya mah, susah diajak belajarnya.”
“Kalau
anak saya senangnya main saja. Nggak mau disuruh belajar.”
Pernah
dengar curhatan seperti ini? Sering! Saya malah satu dari jutaan
ibu-ibu yang pernah mengeluhkan hal serupa. Si sulung a.k.a Teh Khoir
yang tahun ini genap 5 tahun, dulu sangat sulit diajak belajar.
Termasuk belajar membaca al qur’an. Baru dihadapkan dengan buku
iqro saja, dia sudah nangis guling-guling. Uminya pun stres. Target
yang telah disusun sedemikian rupa, tak bisa terealisasi.
Pada
akhirnya saya mencoba berdamai dengan keadaan dan berusaha mencari
solusi atas masalah yang saya hadapi. Saya mencari reperensi seputar
dunia parenting yang bisa saya jadikan ajuan. Pada akhirnya saya
menyadari bahwa selama ini saya keliru.
Setiap
anak terlahir dengan firahnya sebagai pembelajar, hanya kita saja
sebagai orangtua yang tidak bisa menemukan cara belajar yang disukai
anak.
Belajar
adalah sebuah proses untuk memahami sesuatu, sedangkan prosesnya
sendiri tidak baku. Jadi mengajak anak belajar tidak berarti
menghadapkan anak pada buku dan kita sebagai orangtua mengajarinya.
Aduh.., zaman dulu sekali itu. Apalagi kalau ditambah dengan rotan di
tangan sang ibu. Kezzzzzaaaam.
Pada
postingan kali ini saya mau berbagi pengalaman ketika mengenalkan si
sulung pada huruf-huruf hijaiyah. Langkah-langkah yang saya lakukan
adalah,