17 September 2015

Siapa yang Harus Didahulukan Suami? istri atau Ibu?

“Iya kalau lebih, Teh. Ini mah kurang, masih mau ngasih. Harusnya, kalau kebutuhan kita udah bisa terpenuhi baru ngasih ke ibunya.”

    Suatu hari, dengan nada bicara yang diselimuti kekesalan, tetangga saya bercerita. Dia bercerita akan kebiasaan suaminya yang selalu memberikan sebagian  penghasilannya kepada ibunya. Tetangga saya tidak ridho karena pengasilan suaminya terlalu kecil untuk dibagi dengan ibu mertuanya.
    Speechless saya mendengarnya. Betapa sering masalah penghasilan dan siapa yang harus didahulukan suami, menjadi pemicu kekurang-harmonisan antara anak dan ibu mertua. 

credit
    Mendengarnya bercerita, saya jadi teringat masa-masa ta'aruf dulu dengan suami. Dia sempat menanyakan pendapat saya, bagaimana kalau nanti penghasilannya diberikan sebagian kepada ibunya. Entah mau ngetes kualitas calon istrinya atau apa, dia menanyakan hal itu disamping hal-hal lain yang krusial mengenai persiapan rumah tangga kami kelak. Untungnya jawaban saya tak membuatnya kecewa. Waktu itu saya menjawab, bahwa merawat orangtua memang kewajiban setiap anak. Apalagi, kondisinya, ibu mertua saya seorang janda. Sudah tentu anaknya yang bertanggungjawab. Disamping itu saya pun pernah membaca, bahwa setelah menikah, anak laki-laki tetap milik ibunya. Berbeda dengan perempuan, yang setelah menikah menjadi tanggungjawab suaminya. Kala itu, saya baru mengetahui sebatas ilmunya saja, namun dalam teknis pelaksanaannya saya tidak tahu.

    Setelah menikah, barulah saya mengerti bagaimana susahnya me-manage perasaan antara keinginan dinomor satukan suami dan kewajiban menghormati ibu mertua yang seharusnya dinomor satukan oleh suami. * ribet ya bahasanya? :)
   
    Seorang perempuan pada dasarnya selalu ingin menjadi nomor satu dalam hal kasih sayang, perhatian, termasuk nafkah. Jika kondisi finansial keluarga baik, mungkin tidak akan menjadi masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kondisi finansial sedang tidak stabil. Kasusnya akan seperti tetangga saya tadi. Uring-uringan. Bahkan kalau yang levelnya parah, bisa sampai empet sama mertua sendiri. Ketika kondisinya seperti ini, biasanya seorang istri akan dilanda kegalauan. Dia sadar bahwa setelah menikah, sepenuhnya, dia menjadi tanggung jawab suami. Meskipun nafkah yang diterima dari suami kurang, malu dong jika harus minta lagi sama orangtua. Kecuali kalau memang kepepet banget. Bisa dipecat jadi menantu, suami kita. Dan di sisi lain, dia pun sadar bahwa ibu mertua adalah tanggungjawab suami juga. Pada bagian ini, (menurut saya), adalah battle terbesar bagi seorang istri ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Dia harus sabar dengan berapa pun nafkah yang diberikan suami dan ikhlas manakala suami membagi perhatiannya kepada ibunya, ibu kita juga.

Dalam sebuah hadits shahih, diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Kalau dibaca sekilas, kok kesannya nggak adil banget ya? Suami berhak pada istrinya, tapi yang berhak kepada suami adalah ibunya. Eeiit tapi tunggu dulu! Allah itu Mahaadil. Pada setiap ketetapan-Nya pasti ada kebaikan. Jika setelah menikah istri berhak pada suami, siapa yang akan mengurusi orangtua kita? Setiap pasangan pasti sibuk dengan pasangannya masing-masing tanpa menoleh pada orangtua.

Mungkin saat ini, seorang istri merasa merana karena tidak lebih berhak dari ibu mertuanya, namun setelah punya anak laki-laki, dia berhak pada anak laki-lakinya. Jadi berdoalah supaya mempunyai anak laki-laki soleh yang akan menjaga kita setelah kita tua nanti. Dan saat ini, jangan mencegah suami kita untuk menjadi anak soleh bagi ibunya.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya ketika kita bisa berpikir jernih dan mengkomunikasikannya dengan baik pada ibu mertua. InsyaAllah, orangtua akan mengerti keadaan kita ketika kita bicara baik-baik padanya. Orangtua mana sih, yang mau melihat anaknya susah?
Pengalaman saya sendiri, meskipun ibu mertua lebih berhak kepada suami, tapi beliaulah yang lebih sering mengalah. Allahu Akbar! Mungkin inilah kenapa Allah tak henti-hentinya memerintahkan kita utuk menghormati dan menyayangi orangtua kita.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik baiknya” (QS. Al-Isra’:23).

Kesimpulannya, istri yang baik itu adalah seorang istri yang mengerti posisinya dimana dan dengan penuh keikhlasan melaksanakan setiap kewajibannya pada suami dan orangtuanya apa pun kondisinya.

#Tulisan ini lebih menjadi selfreminder bagi saya, karena sampai saat ini masih belajar dan berusaha untuk bisa menjadi istri yang baik bagi suami saya. Bukan bagi suami oranglain. #Apa sih?

Kisah seorang sahabat Rasulullah, Alqamah, bisa kita jadikan contoh. Alqamah terkenal seorang yang wara' dan ahli ibadah, namun ketika sakaratul maut tiba dia tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid. Setelah ditelusuri, ternyata dosanya pada ibunyalah yang menyebabkan dia begitu menderita ketika sakaratul maut. Setelah menikah dia kurang memperhatikan ibunya, dan menyebabkan ibunya sakit hati.

33 komentar:

  1. mencerahkan.. thanx for sharing..

    BalasHapus
  2. Bagaimana kalau penghasilan itu dipegang smua sama Ibu mertua ? dan sbg Istri sy tidak mendapat hak apapun.. sedihkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hal ini harus dikomunikasikan dengan suami mba, mba, sebagai istri juga punya hak untuk mendapatkan nafkah dr suami

      Hapus
  3. Aku pun mengalami yg demikian, dan pernah merasa empet bgt jika liat mertua... penghasilan suami pas-pas an, tetapi suami selalu memberi uang belanja kepada ibunya dan bukan kepada saya... apa yang harus saya lakukan? Pada kenyataan'y kewajiban seorang suami adalah menafkahi istrinya, bukan ibunya... ��

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Aku pun mengalami yg demikian, dan pernah merasa empet bgt jika liat mertua... penghasilan suami pas-pas an, tetapi suami selalu memberi uang belanja kepada ibunya dan bukan kepada saya... apa yang harus saya lakukan? Pada kenyataan'y kewajiban seorang suami adalah menafkahi istrinya, bukan ibunya... ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. kewajiban suami adalah ibu dan istrinya. apalagi jika kondisi ibunya sudah janda. harusnya suami mba bisa membagi penghasilannya. semoga mba bisa bersabar, dan kedepannya bisa komunikasikan hal ini baik-baik dengan ibu dan suami. agar hubungan mba dengan ibu mertua bisa harmonis

      Hapus
  6. terima kasih share nya.. setidaknya bisa menambah catatan dalam kasus yang saya alami beberapa minggu lalu.

    BalasHapus
  7. Pada saat lebaran suami lebih pilih berangkat plg kampung bersama ibunya dg alasan antar krna kita tau ibunya seorang janda. Sdgkan kondisi saat ini saya sbg istri sdg hamil. Saya cm bs relakan saja skg. Krna pnh g rela awalnya, malah berakibat dpt sindiran terus dan saya terjepit dg kondisi bgini. Saya blm tau menurut agama bgmn??

    BalasHapus
  8. Lain halnya dgn saya mbak, secara financial saya gak pernah mengeluh meskipun penghasilan suami sedikit dan harus dbagi dengan ibunya yg janda, bahkan saya sering mengalah dlm hal keuangan,, yg bikin saya sebel adalah waktu dan pikiran suami saya, saya rasakan lebih bnyak untuk ibunya meskipun kami sudah tinggal d rumah sendiri, dan mertua saya spt ngga mau tau kesulitan kami, bahkan saatanak saya yg masih 16 bulan panas,masih bisa dia menyuruh suami saya datang k rumahmya hanya untuk buka bersama, nginep lagi.. Apakah saya jg termasuk istri yg tdk mrnyadari posisi sbg istri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba, pernah dengar kisah seorang istri yang tak bisa menjenguk orangtuanya hingga meninggal karena suaminya melarangnya pergi?

      dalam kisah ini Allah menjanjikan pahala untuk sang istri dan ampunan untuk suaminya.

      Saya rasa kuncinya ada di kominikasi Mba. jika keadaanya memang mba yang lebih membutuhkan suami daripada ibunya, maka mba harus bisa mengkomunikasikannya dengan suami. ibunya suami memang lebih berhak. tapi kita pun memiliki hak. suami kita yang harus bisa adil dan mendahulukan siapa yang lebih membutuhkan.

      maaf mba ilmu dan pengalaman saya masih sedikit. ternyata banyak kisah hidup yang lebih menantang di luar saana

      Hapus
  9. Sungguh bahagia mempunyai istri seperti itu. Tahu dan ikhlas akan kedudukannya. Amin amin ya rabbal alamim

    BalasHapus
  10. saya pada posisi itu, pak suami membiayai ibunya secara full karena anak satu satunya, agak berat walaupun saya waktu itu asih kerja kantoran, seiring waktu belajar ikhlas, walaupun pada beberapa keadaan bikin baper hahaha, tapi itu memacu saya berusaha memiliki penghasilan sendiri,jadi bisa ngasih ortu sendiri dan punya uang yang bebas sya gunakan sesuka hati :)

    BalasHapus
  11. Sebelumnya saya jg bekerja mbak, bahkan maaf penghasilan saya lebih besar drpd suami, gaji suami saya ngga pernah lihat/tau, mau apa2 pakai duit sendiri, bahkan masih bisa bntu ibu mertua saya membiayai sekolah adik ipar saya, ttp 3th yll saya resign krn ingin punya momongan, dan alhamdulillah Alloh memberikan saya kemudahan.. Lama2 tabungan saya mulai menipis sementara suami g pnya tabungan sma sekali,, d situlah perang batin mulai trjadi, antara keinginan utk menjaga dan mendampingi si kecil dan bkrja lg yg artinya sya hrs meninggalkan kewajiban sya sbg ibu bagi anak saya,, dtambah sikap suami yg masih saja selalu berat sebelah, dan sikap mertua yg seperti acuh trhadap kondisi keluarga kami yg tak lagi harmonis spt waktu sya masih pnya duit sendiri,, hal itu membuat saya tertekan, saya tak pernah bisa marah pda suami krn setiap kali melihatnya pulang krj dgn gurat kelelahan d wajahnya, mulut saya spt dilem dan tak mampu bicara mski sekedar curhat/mnceritakan ulah si kecil,, cuma "mau shalat dulu pa makan dulu mas?" Itu yg mampu saya ucapkan,, saat ini saya memberi makan anak dan suami saya dr rezeki yg diberikan orang tua kandung saya, yg hidup mereka pun belum bisa saya bilang lebih, hnya ckup untuk makan,, hal itu yg membuat saya tersiksa, saya merasa keadaan ini begitu tak adil dan pelahan saya mulai memendam kemarahan pada mertua saya,,
    Ukhti dan akhi muslimin, sayo mohon pencerahannya, bgaimana saya harus bersikap dlm kondisi saya yg seperti itu? Sblmnya terima kasih

    BalasHapus
  12. Bagaimana dgn sy mb? Org tua suamu sy masih ada , bpk nya wiraswasta ibunya kepala secolah... tapii mereka sllu minta duit sama suami sy, dan diam2 pun suami sy kirim untuk mereka... permintaan mereka malah melebihi gaji kami... awal bulan minta akhir bulan pun minta, sedNgkan kami punya anK 3 ,mazih kecil2..sy tau tp sy blm brani bicara ke suami ttg cara nya ini , sy merasa sperti tdk di hargai sbgai istri sama org tua nya, coba mereka minta sMa saya, tp tdk pernah... mazalah keuangan RT kami sy yg tau...tp kalau mertua minta2 terus bgnu gmma mba,?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seandainya suami mau memberi ke orangtuanya tanpa memberi tahu kita sebagai istrinya, sebenarnya itu tidak masalah. karena uang tersebut memang haknya suami. asal, dia pun bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. jangan karena mentang-mentang ibu harus didahulukan, lantas kebutuhan istri dan anaknya jadi terbengkalai. bagaimana pun suami harus bisa memenuhi tangggung jawab kpd ibu dan keluarga barunya

      Hapus
  13. Akhirnya saya pun memutuskan untuk bekerja di konveksi dg prtimbangan saya tetap bisa bekerja dan malam hari dan hari minggu saya tetap bisa bersama anak saya tanpa harus membebani suami dgn tuntutan yg saya tau suami tidak akan sanggup memenuhinya,, saya berusaha tabah dan berpikir positif dan berbicara pda bos utk bsa bekerja dari rumah,, bos pun setuju dengan syarat saya harus full time dulu untuk melihat kinerja saya, kalau sudah dirasa mampu mka saya diijinkan untuk bekerja dari rumah dan itu membuat saya sangat bersemangat, saya berusaha semaksimal mungkin dan membayangkan bisa bersama anak saya sepanjang hari dan bekerja saat dia sedang tertidur pulas,, tiga minggu jalan saya bekerja fulltime tp sedikit demi sedikit saya merasakan berkurangnya kedekatan saya dg anak saya, puncaknya pagi ini,, hari minggu saya libur mulai bangun pagi saya berusaha memberikan waktu dan perhatian saya untuk anak saya menuruti kemauannya tetapi dr pagi pula dia rewel terus semua serba salah dan yg lebih membuat saya sakit ketika dia menolak saya beri asi dan memilih bersama dg neneknya (ibu saya). Saya merasa sgt kehilangan, saya ngga tau apa saya terlalu berlebihan tp saya sangat sedih dan terluka saat terlintas dalam pikiran saya bagaimana saya berusaha keras untuk mnjalankan kewajiban saya sbg seorang istri dan seorang ibu, saya berusaha membantu suami utk mnjaga dapur kami tetap mengepul, kehilangan momen momen penuh kasih sayang dgn anak saya, tetapi suami sibuk mengurus ibunya yg seperti tak pernah puas trhdp apa yg sudah dimilikinya, seakan2 perjuangan suami saya utk membahagiakan nya tak pernah cukup,, keharmonisan keluarga kami sudah kami korbankan tp tak cukup utk membuatnya tenang di rumahnya sendiri,, mungkin ukhti/akhi berpikir sebaiknya kami pindah dan tinggal bersama mertua saya,, maaf dg berat hati saya katakan saya ngga bisa,, gaji suami saya tak ckup utk mkn kmi apalagi dtmbah mertua, tidak mungkin jg saya meninggalkan rumah yg saya bngun dg jerih payah saya sendiri, lalu tinggal di rumah mertua lalu mengambil bahan makanan dari orang tua saya, karena selama ini kmi masih makan dr ortu saya,, ortu saya sendiri yg menginginkan agar hasil krj kami, kami kumpulkan sndiri utk msa depan kami dg harapan d masa tua mereka kelak kehidupan kami akan mapan dan tidak keberatan jika harus mengurus mereka saat mereka sudah tdk mampu mengurus diri mereka sendiri,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba, tiap rumah tangga memiliki ujiannya yang berbeda-beda. Namun Mba harus yakin, Bahwa Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita. Sebaiknya, mba coba diskusikan jalan keluar yang terbaik bersama suami. karena ini menyangkut rumah tangga mba dan suami. Tidak ada larangan bagi seorang istri untuk bekerja dengan catatan dia tidak melalaikan kewajibannya yang utama. Selebihnya, coba mba minta jawaban dan petunjuk dari Allah, karena Dia adalah sebaik-baik penolong bagi kita.

      Hapus
  14. Mencerahkan....semoga istri saya dapat mengerti akan hal ini, terima kasih

    BalasHapus
  15. Pelajaran bagi kita sebagai wanita.. Nanti saat jd mertua jadilah mertua yang baik, yg mengerti kondisi anak dan menantu kita.. Meskipun kita berhak didahulukan sbg ibu nanti..

    Lalu untuk kondisi sekarang yg masih berperan sbg menantu saja, ana dan suami selalu bicarakan dulu gimana baiknya dlm menghadapi masalah apalagi yg berkaitan dg ibu suami.. Ana pribadi pernah merasa kesal jika suami lebih condong kpd ibunya.. Akan tetapi selalu ana bicarakan dg suami lalu ana mencoba mendekati ibu mertua dn banyak berkomunikasi dg mertua juga memberikan hadiah untuk ibu mertua agar hilang rasa kesal dihati ana kpd beliau.. Yah berusaha memposisikan diri sbg anak bg mertua ana.. Bkn sebatas menantu..

    BalasHapus
  16. Mba, saya baru 1 Tahun Menikah, dan sebelum Pernikahan sudah saya jelaskan tentang kondisi saya dan keluarga saya, saya mempunyai orang tua yang sudah bercerai, dan saya ikut Ibu, dari pernikahan sekarang Ibu saya mempunya 3 Orang Anak yang masih sekolah, SD, SMP dan SMA, namun Suami Ibu saya yang sekarang sudah meninggal dunia, jadi sejak saat itu saya yang berusaha sedikit membantu kebutuhan Ibu dan Adik2 Tiri saya, nah di kondisi saat ini Istri saya mengeluhkan hal itu, karena kata dia hal inilah yang menyebabkan saya harus pisah (dalam artian saya masih tinggal dengan Ibu dan Adik2 Tiri saya di Jakarta sedangkan Itri masih di Cilacap), apa yang harus saya lakukan Mba, terimkasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecemburuan istri Mas adalah hal yang wajar. mungkin istri merasa nafkah yang diterimanya kurang atau tidak mencukupi.atau merasa perhatian mas lebih besar kepada ibu dan adik2. untuk nafkah adik2 tiri mas sendiri, adalah tanggungjawab keluarga dr pihak ayahnya, atau ayah tiri mas. mungkin mas bisa mencari keluarga dr ayah yang berlebih yang bisa membantu menafkahi adik2.

      saran saya, jika sudah berkeluarga memang lebih baik untuk pisah dengan orangtua.

      Hapus
  17. Sungguh bahagia bagi mereka2 yang masih memiliki suami karena masih bisa berbakti kepada suaminya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
    Saya hanya ingin berbagi kisah hidup saya, saya memiliki suami yang sangat mencintai keluarganya (istri, anak dan ibunya)tetapi saya terlalu egois karena saya juga menginginkan menjadi wanita yang dinomorsatukan oleh suaminya. Saya dan suami sama2 bekerja,dari awal sebelum pernikahan kami sudah berkomitmen untuk membagi hasil kerja kami untuk orang tua dan saya tidak mempermasalahkan hal itu. Tetapi seiting dengan berjalannya waktu saya mulai cemburu kepada ibu mertua saya karena suami saya sangat,snagat, dan sangat menyayangi ibunya. Sebagai seorang istri(yang egois) saya ingin suami saya hanya mencurahkan rasa cinta dan kasih sayangnya hanya untuk saya dan anak saya,keluarga kecil kita tanpa adanya orang lain meskipun itu orang tua sendiri.Tetapi suami saya selalu mengatakan bahwa saya adalah wanita yang sangat dicintai dan disayanginya,kata2 itulah yang membuat saya perlahan2 mulai bisa menerima jika suami juga harus menyayangi ibunya.
    Sampai pada suatu saat ketika suami saya sedang sakit, mertua saya meminta kepada saya agar suami saya dirawat dirumah mertua dengan alasan tidak ingin membebani saya yang sedang bekerja (ok fine). Saat itulah rasa cemburu yang sangat besar mulai hadir kembali dalam hati saya, saya merasa dengan suami saya tinggal bersama ibunya berarti waktu untuk kami menghabiskan waktu bersama hanya sedikit. Satu bulan berlalu dan suami saya masih dalam keadaan sakit (dokter memvonis kanker darah atas penyakit yang diderita oleh suami saya). Rasanya seperti petir di siang bolong saya mendengar berita itu, seperti ada bom dalam hati saya, saya tidak sanggup menerima kenyataan. Dan selama suami saya sakit yang merawat adalah mertua saya, tetapi ketika kondisinya memerlukan perawatan saya yang membawanya ke RS, dan begitulah seterusnya sampai 2 bulan lamanya. Ketika sakit suami saya pernah bercerita kepada saya bahwa sesungguhnya dalam hati nya yg paling dalam suami saya menginginkan untuk tinggal bersama saya tetapi mertua saya melarang dengan alasan bahwa suami saya akan sembuh dengan dirawat oleh ibunya sendiri dirumah ibunya. Dan untuk kesekian kalinya saya harus mengalah demi kesehatan suami (karena jika suami saya berpikir terlalu berat itu akan menambah parah penyakitnya). 1 minggu berlalu tepatnya tanggal 05 Maret 2017 suami saya memaksaibunya untuk mengantarkan dia pulang kerumah kami, suami saya bersikeras ingin pulang karena sangat,sangat,sangat merindukan anak dan istrinya. Di hari itu kita sangat bahagia sekali, suami saya sudah mulai pulih keadaannnya, mulai membaik dan kami bisa berkumpul bersama lagi adalah suatu kebahagiaan tersendiri dalam hidup saya.
    Tetapi Allah berkata lain, 6 Maret 2017 sehari setelah pertemuan itu suami saya dipanggil oleh Allah. Suami saya meninggalkan saya untuk selamanya. Hanya Allah yang tau bagaimana perasaan saya saat ini.

    Saya merasakan bahwa suami saya sangat mencintai saya dan anaknya tetapi dia juga tetap menghormati ibunya, saya bangga menjadi istrinya, dia adalah suami yang baik yang bertanggung jawab pada keluarganya.
    Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untu suami saya disisiNya. Aammiinnn..Aaammiinn..Ya Robbal alamin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sharingnya mba :)
      salamkenal dari Sumedang

      Hapus
  18. bagaimana jika suami berbagi nafkah dengan kakaknya. krn kakak nya janda tidak punya anak dan suami lebih mengutamakan nafkah ke kakak nya drpd ke istri nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suami Mba tidak salah jika ingin membantu menafkahi kakaknya. karena perempuan berhak mendapat perhatian dr saudara laki-lakinya. namun ketika suami lebih mementingkan kakaknya. itu jelas keliru. istri dan anak-anaknya yg lebih berhak atas nafkah suami. coba bicarakan hal ini dengan suami

      Hapus
  19. Mohon sarannya ya,,
    Mertua saya "memagari" suami saya dengan (maaf) darah haidnya..sehingga suami saya selalu teringat untuk pulang setiap hari ke rumah mertua saya. Walaupun larut malam sekalipun.. Dan mengentengkan urusan rumah tangga saya,padahal saya sudah mempunyai anak yg harus lebih d perhatikan.. Mohon sarannya ya.. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kalau kalau sudah dipagari,sebaiknya diruqyah mba. soalnya itu sudah berhubungan dengan jin. tapi ruqyahnya, yang syari ya

      Hapus
  20. Mba suamiku setiap hari nganterin ibunya kepasar jam 22 mlem smpai pagi.ninggalin q yg punya bayi dan sdang hamil besar jg.pdahal anak laki2 mertuaku ada yg msh tinggal sama mrtuaku dan duda ga punya isteri.tp mrttuaku minta qnternya sama suamiku terus.q mrasa kberatan krna tiap hri jd tidur sndiri.dan suami kd jrang kasih nafkah batin jh krna buln puasa gni malas mandinya krna dya ga tidut kan.pngenxa q suamiku nganterxa ga tiap hari.gantian ato klo prlu anal laki2 yg lain ja yg anter yg nlum punya orng yg mmbutuhkan.tp suami blng ini wujud bakti dya ke ibunya.tp sy ngerasa ga adil krna dya brbkti ke ibunya tp melalaikan isterinya.sktng sy ma suami jd ga harmonis.brrantem terus.gmna ya mba?

    BalasHapus
  21. sblm sy n suami menikah kmi sdh mencari nafkah brsm* smpai ayah mertua meninggal pun yg membayar hutabg* nya dr hasil sy n suami(pd saat itu msh status pacaran) suami sbnr nya anak tunggal tp dia punya adik sepupu yg di asuh dr bayi oleh mertua sy dan skrg biaya mertua n adik sy itu dr hasil kmi cari nafkah berdua smpai kami tdk bisa makan apa* krn mertua perlu uang. sy tdk masalah dg nafka ke mertua sy tp ke adik ipar sy yg agak berat krn status nya org tua adik ipar sy itu msh hidup n berada...thn dpn dia masuk SMA,,yg sy tnyakan apakah slah sy tdk mengikhlaskan suami sy untuk menyekolahaka adk ipar sy krn keadaan keuangan kami yg blm stabil??
    dan untuk mertua sy minta uang sebulan bisa 2/3 x. apakah hukum nya memberi orang tua tp nafkah hasil keringat suani istri uang bersama krn kerja sm??

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming