5 Maret 2013

Lagu Daerah (Tidak) Kampungan

Bismillahirrohmanirrohim
Ini adalah kali pertama saya membuat postingan berbahasa daerah. Sebelumnya nggak pernah sama sekali, kalau pun ada, bahasa daerahnya cuma nyempil sedikit-sedikit. Dan setelah melihat giveaway-nya Mba Niar, kepikiran deh untuk membuat postingan tentang bahasa daerah. Hmmm, tapi nggak ngebahas tentang bahasa daerah sih, kali ini saya ingin mereview lagu berbahasa daerah. Karena saya keturan USA (Urang Sunda Asli) saya akan mereview lagu berbahasa sunda.

Dewasa ini, karena arus globalisasi, kawula muda cenderung menganggap lagu-lagu berbahasa daerah adalah lagu yang kuno alias ketinggalan jaman, termasuk saya. Kebanyak menganggap lagu barat atau lagu pop lebih keren dan menggambarkan jiwa muda. Biasanya yang masih senang lagu-lagu berbahasa daerah adalah orangtua yang memang dulunya lebih akrab dengan bahasa daerah masing-masing. Nah, pandangan ini pelan-pelan berubah setelah saya menikah. Suami saya, tak disangka lebih senang lagu-lagu berbahasa daerah dibandingkan lagu pop apalagi lagu barat. Awal menikah, saya sempat melongo kaget, ketika melihat list lagu di handphonenya kebanyakan lagu-lagu Doel Sumbang. Dia bilang lagu-lagu Doel Sumbang lebih sarat makna dibandingkan lagu-lagu pop jaman sekarang yang kebanyakan bertemakan cinta alias lebay, katanya.


Nah, karena saat ini saya sangat akrab dengan suara Doel Sumbang, saya akan membahas lagu Doel Sumbang yang berjudul Runtah (Sampah). Siapa sih yang nggak kenal beliau? Penyanyi yang mempunyai nama asli Abdul Wahyu Affandi ini, mendapat nama Doel setelah mengawali karier di dunia teater pada "teater Remy Silado". Sedangkan julukan Sumbang, beliau dapat bukan karena suaranya yang sumbang atau sember, tapi karena lagu-lagu yang beliau nyanyikan memang terdengar sumbang atau nyeleneh dan vulgar. beliau terkenal lewat lagunya yang berjudul Kalau Bulan Bisa Ngomong yang dinyanyikan bersama Nini Karlina.
Untuk lagu Runtah sendiri, seperti ini liriknya,

Panon na alus,irung alus,biwir alus.
(Matanya bagus, hidungnya bagus, bibir bagus)

Ditempo ti hareup ti gigir meuni mulus.
(Dilihat dari depan dari samping sangat mulus)

Ngan hanjakal kalalakuan siga setan.
(Tapi sayang kelakuan seperti setan)

Gunta ganti jalu teu sirikna unggal minggu.
(Ganti-ganti lelaki tidak kurang setiap minggu)

Naha kunaun nu geulis loba nu bangor.
(Kenapa yang cantik banyak yang nakal)

Naha kunaon nu bangor loba nu geulis.
(Kenapa yang nakal banyak yang cantik)

Siga na mah ngaraasa asa aing hade rupa
(Sepertinya karena merasa punya paras yang bagus).

Bisa payu ka sasaha tungtung na jadi cilaka.
(Bisa laku pada siapa saja akhirnya jadi celaka)

Kulit klir koneng cangkang cau.
(Kulit klir kuning kulit pisang)Huntuna bodas tipung tarigu.
(Giginya putih tepung terigu)

Panon coklat kopi susu.
(Mata coklat kopi susu)

Ngan naha atuh beut di mumurah
(Tapi kenapa dijual murah).

G****k hirup daek jadi RUNTAH.
(G***ek hidup mau jadi sampah)

Ulah banggga bisa gunta ganti jalu.
(Jangan bangga bisa ganti-ganti lelaki)

Komo jeung poho di baju.
(Apalagi sampai lupa di baju)

Jika kalian orang sunda, pasti kalian tahu bahwa lagu ini liriknya menggunakan bahasa sunda yang sedikit kasar. Sebagaimana kita tahu, bahwa bahasa sunda sendiri mempunyai tata bahasa yang berbeda tergantung lawan bicara. Ini menandakan bahwa bahasa sunda sangat menjunjung tinggi norma dalam  bergaul. Misalnya saja, kata makan ketika ditujukan kepada yang lebih tua, adalah tuang. Ketika ditujukan pada yang lebih muda, berubah jadi neda. Sedangkan ketika ditujukan pada lawan bicara yang seusia, bisa emam, atau yang kasarnya, dahar. Oke, balik lagi ke lagu Doel Sumbang. Meskipun bahasanya sedikit kasar, tapi saya pikir, lagu ini lebih sarat nilai moralnya dibandingkan lagu-lagu yang dibawakan band-band jaman sekarang. Bisa kita lihat artinya, sebenarnya lagu ini lebih merupakan sindiran kepada kaum hawa untuk tidak memperlakukan dirinya seperti sampah. Dalam lagu ini diceritakan bagaimana seorang perempuan yang merasa punya paras oke, rela menjadi barang yang dimainkan kaum adam tanpa sadar. Mengumbar aurat, tebar pesona sana-sani, ganti-ganti pacar. Perempuan terkadang salah kaprah tentang bagaimana cara untuk menghargai dirinya. Ada sebagian yang menganggap karena segala sesuatu yang dimiliki perempuan adalah indah, maka mereka mempertontonkannya sehingga membuat mereka bangga. Namun ketika kita menganalogikan seorang perempuan dengan mutiara, maka cara menjaganya bukan dengan diperlihatkan pada banyak orang, tapi dengan menyimpannya dalam sebuah brangkas, hingga tak dicuri orang.

 Lewat tulisan ini sebenarnya saya ingin mengajak kaum muslimah dan umumnya seluruh perempuan, untuk lebih menyadari jika yang ada dalam diri kita adalah titipan semata dan suatu saat nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang Allah titipkan.

Sebenarnya islam sangat menghargai perempuan. Ini terbukti dengan diwajibkannya seorang perempuan untuk menutup auratnya, hal ini tiada lain bermaksud untuk menjaga perempuan itu sendiri.
Asma binti Abu Bakar telah telah menemui Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasulullah “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (HR. Bukhari & Muslim)

Selain itu, sebagai seorang muslim, kita pun wajib menjaga kemaluan (Kehormatan )sebagaimana firman Allah berikut,
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS : An Nuur [24] : 30).

Nah loh, kok dari postingan bahasa daerah, nyasar ke postingan islami? Hihiii.kesempatan dakwah dalam kesempitan. Intinya kita harus lebih cermat lagi untuk memilih lagu-lagu seperti apa yang akan kita dengarkan. Alangkah lebih baik jika kita tidak hanya melihat dari sisi kerennya saja, tapi dari sisi pesan yang bisa kita terima juga. Saya pernah baca artikel, ternyata lagu yang didengar seseorang bisa mempengaruhi karakter seseorang. (*backsound : ya iyalah, masa penyanyi rock klemer klemer kayak personil boy band?)


Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway

4 komentar:

  1. sapa bilang lagu daerah kampungan, eeh itu lagunya kok keren toh nyindir yang cantik2 :D

    Makasih yaa mbak udah ikutan, dicatet PESERTA :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. bukannya direff nya kurang ya.. Bibir berem berem...apalah itu hehe ak orang jawa tapi suka ma it lagu mas.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming