3 April 2013

Catatan Ummi Kece #3


KETIKA SI KECIL SAKIT

Sehat adalah salah satu nikmat yang sering lupa untuk kita syukuri. Padahal, ketika kesehatan itu diambil barang 1 hari saja, banyak hal-hal positif yang tak bisa kita lakukan. Tapi, sakit juga bisa menjadi wasilah kedekatan kita dengan Sang Pemilik Kehidupan manakala kita bersabar dengan kesakitan yang kita rasakan. Atau manakala kita sehat kita alpa untuk mengingatNya. Baru deh, pas sakit rajin ibadahnya (pengalaman).

Nah. Dalam postingan kali ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman saya ketika Khoiry terserang demam. Ternyata kita lebih merasa khawatir ketika anak sakit dibandingkan ketika kita sendiri yang sakit. Saya kalang kabut. Dan berusaha melakukan hal terbaik untuk merawat anak saya. Saat itu, tanggal 3 Januari 2013, bada dzuhur, saya pegang kepala Khoiry, temperaturnya sedikit hangat. Saya biasa saja karena Khoiry memang terkadang hangat kepalanya. Namun saya mulai mengkhawatirkan kondisinya, karena setelah itu Khoiry tidak aktif bermain seperti biasanya. Bahkan dia tambah rewel dan minta digendong terus. Setelah magrib panasnya makin tinggi. Karena di rumah belum punya termometer, akhirnya saya hanya mengira-ngira berapa panasnya. Catatan untuk para Bunda, sebaiknya punya termometer di rumah agar bisa tahu suhu badan si kecil ketika sakit yaaaa. Jangan kayak saya *plaaaak. Perhitungan saya, pasti panasnya sudah mencapai 37 derajat. Saya mencoba menangkan diri saya dulu and be positif thinking. Si kecil baik-baik saja. Kata-kata itu yang terus saya rapalkan. Saya kemudian mengompresnya dengan air hangat untuk mengurangi suhu di permukaan kulit. Sayangnya, Khoiry malah berontak. Tidak mau dikompres. Lap kompres kerap kali ditariknya kemudian dilempar. Saya coba membujuknya dengan mengeyong-ngeyongnya (*halaaaah apa pula bahasa Indonesianya mengeyong?) ketika dia protes dan ngambek. Akhirnya dia diam untuk beberapa menit dan mau dikompres.


Semalaman dia hanya mau tidur digendongan. Oalaaaah begini to rasanya ketika anak sakit. Meskipun ngantuk tuk tuk berat, tapi sangat sulit untuk tidur jika mengingat kondisi si kecil. Bawaannya megang kepala si kecil terus.

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga saya, jika ada anggota kelurga yang sakit, maka kami tidak langsung memberinya obat kimia. Terlebih dahulu, kami berikhtiar dengan obat-obat konvensional atau herbal. Alasannya? Obat-obat konvensional insyaAllah lebih baik untuk tubuh karena tidak menyebabkan efek samping. Seperti ketika adik saya demam, ibu biasanya menumbuk daun dadap kemudian diletakkan di kening, ketiak, dan dada adik saya. Berhubung di sini saya tidak tahu dimana saya bisa mendapatkan daun dadap, saya mencoba dengan cara lain yaitu dengan membalur seluruh tubuhnya dengan bawang merah keesokan harinya. (Saat itu bawang belum semahal sekarang yaaa).

Meskipun sakit, saya tetap memandikan Khoiry. Hal ini saya lakukan setelah membaca sebuah artikel, jika sakit bukan alasan untuk tidak memandikan anak. Bahkan jika tidak mandi, tubuh anak akan semakin banyak dihinggapi virus dan bakteri. Mandi air hangat juga salah satu alternatif jika anak tak mau dikompres. Makanya, saya ajak Khoiry berendam agak lama. Beruntungnya, dia memang senang jika diajak mandi.

Hari ketiga panasnya belum hilang. Sempat turun, tapi setelah itu naik lagi. Pikiran positif saya sedikit goyah, ketika kakak ipar menyarankan untuk periksa darah. Sekarang kan musim DBD, begitu katanya. Akhirnya saya menyerah dengan obat-obatan konvensional dan membawanya ke Bidan.

Setelah diperiksa ternyata suhu tubuh Khoiry sudah mencapai 38,6. MasyaAllah, saya kaget bukan main. pantesan dia lemes banget. Tak ada pemeriksaan lain. Setelah itu si ibunya mulai menumbuk obat. Entah obat apa, tapi yang jelas dia bilang obat ini harus dihabiskan. Aaaaah,saya tahu nih, pasti antibiotik. Selain obat ini, saya juga diberi parasetamol sirup untuk menurunkan panasnya. Diminumnya 4 jam sekali ya, Bu. Katanya.

Setelah sampai rumah, tak ada obat yang saya berikan ke si kecil. Alasannya simple, parasetamolnya mengandung alkohol. Saya dan suami setuju soal ini. Sebisa mungkin kami menghindari pemakaian alkohol sebagai obat atau tambahan makanan. Alasan yang kedua, saya menemukan artikel ini ketika searching di internet,

ANTIBIOTIK merupakan obat umum yang biasa Anda peroleh saat sakit. Biasanya, antibiotik diberikan berdasarkan resep dokter. Namun, Anda harus hati-hati karena bakteri kini kebal terhadap obat ini.

Jumlah bakteri resisten terhadap antibiotik telah meningkat dalam dekade terakhir. Hampir semua infeksi bakteri yang signifikan di dunia menjadi resisten terhadap pengobatan antibiotik yang paling sering diresepkan. Penggunaan berulang dan tidak tepat penyebab utama peningkatan bakteri resistan terhadap obat.

Menurut Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi, setiap kali menggunakan antibiotik, kita memberikan kuman kesempatan untuk bermutasi menjadi bentuk resisten terhadap antibiotik. Seperti kuman menjadi resisten, dokter terpaksa menggunakan obat berbeda, antibiotik lebih kuat, dan mungkin lebih berbahaya. Seperti beberapa kuman bisa terkena dan bertahan dari terapi antibiotik yang lebih kuat, mereka menjadi lebih sulit untuk diobati.

Beberapa jenis kuman seperti kuman penyebab tuberkulosis, infeksi luka, dan
pneumonia yang tidak lagi sensitif terhadap obat yang diberikan dokter untuk melawan mereka. Kuman juga dapat menjadi resisten terhadap antibiotik jika seseorang tidak mengambil resep, seperti yang diarahkan untuk seluruh panjang pengobatan. (health.okezone.com)

Jadi, saya tetep keukeuh pada bawang merah untuk menurunkan panas si kecil.
Alhamdulillah, di hari ke empat, panasnya turun dan Khoiry mulai aktif bermain lagi. Tapi di hari ke lima, treeeeng muncul ruam-ruam merah di wajah, dada, dan tangannya. Saya panik, apakah ini DBD atau campak?
Ternyata bukan. Khoiry terkena virus Roseola yang memang akan menyebabkan ruam-ruam merah setelah panas turun. Bedanya dengan campak, ruam-ruam merah akibat campak muncul ketika suhu tubuh masih panas. Alhamdulillah, saya lega. Penanganannya cukup dengan mandi dan sering menjaga kebersihan pakaian. Hahhha *ketauan deh jorook. Di hari ke tiga ruam-ruam itu hilang dengan sendirinya.

Oke, Ummi, Bunda, dan Mamah. Semoga bisa memetik pelajaran dari pengalaman saya ya. Kesimpulannya, ketika anak kita sakit, yang harus kita lakukan adalah
  1. Jangan panik dan positif thinking.
  2. Kenali gejala sakit yang muncul
  3. Usahakan jangan langsung memberi obat kimia pada si kecil karena akan menyebabkan tubuh ketergantungan pada obat. Akibatnya, sistem imunitas menjadi jelek (teori darimana ya?) Untuk demam, bisa membalurnya dengan bawang merah. Ketika pilek, bisa membuat aroma terapi dengan mencampurkan sereh atau kayu putih pada air mendidih kemudian disimpan dikamar tidur. Ketika batuk, bisa dengan menjemurnya ketika pagi dan memberi madu yang dicampur jeruk nipis (untuk anak di atas 1 tahun)
  4. Jika Ummi sudah khawatir dengan si kecil, bisa berikan obat kimia sesuai dengan petunjuk dokter.
  5. Berdoa untuk kesembuhan si kecil
  6. Tingkatkan imunitas si kecil dengan mengkonsumsi makanan yang kaya gizi, bisa ditambah zat penambah imun seperti madu atau vitamin c.
  7. Always be a wise mother ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming