9 Juni 2014

Catatan Ummi Kece #5 Weaning with Love

Weaning With Love atau menyapih dengan cinta, santer dibicarakan di forum-forum parenting. Membaca tujuannya, saya pun mantap untuk melakukan metode ini untuk menyapih Khoiry. Menyapih dengan paksaan seperti yang kerap dilakukan orangtua dulu katanya bisa menganggu psikologis anak kelak. Karena melakukan tipuan dengan membuat puting ibu seolah-olah luka dengan mengoleskan betadin, atau menambahkan zat-zat yang bisa memberi rasa pahit pada puting bisa menimbulkan luka batin yang akan merusak hubungan ibu dan anak. Weaning with Love atau WWL bertujuan agar hubungan baik antara ibu dan anak yang sudah terjalin selama proses menyusui tidak rusak begitu saja ketika anak disapih. WWL membuat anak tidak menyusu lagi sesuai dengan keinginannya. Caranya adalah dengan,

1. Terus menerus memberikan pengertian pada si anak bahwa dia tidak boleh menyusu lagi, tentunya dengan cara yang baik dan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak.
2. Mengalihkan keinginan menyusu si anak pada hal lain atau kegiatan lain, seperti mengajaknya bermain atau menawarinya minum air putih atau susu.
manyun tapi manis
Khoiry Solihah
Sampai saat ini WWL yang saya lakukan belum berhasil. *guling-guling di lantai. Ternyata proses ini memerlukan kesabaran yang luar biasa. Biasanya saya memberikan dia pengertian tentang berhenti menyusui ketika menjelang tidur. Begitu Khoiry minta enen, biasanya saya langsung bilang,
“Dede kan udah gede. Kalau udah gede nggak nenen lagi ya? Tuh kakinya udah panjang, tangannya udah panjang” Biasanya perhatiannya sedikit teralihkan kemudian dia sibuk mengangkat kakinya tinggi-tinggi sambil ketawa.
“Heueuh,” katanya.
Tapi beberapa saat kemudian, “Nenen, Mi!” *Gubrak!! Merajuk-rajuk lagi, malah semakin ekstrim dengan menarik kerah baju Umminya.
“Ih, katanya udah gede? Nenennya buat dede bayi aja ya?” Saya belum nyerah.
“Entong!” jawabnya ketus. Maksudnya nggak boleh.
“Nanti dede bayinya nenen sama siapa dong?”
“Sama Dede!” jawabnya bangga sambil buka-buka baju liatin payudaranya.
*alamaaaa. Ini emanya yang kurang ide atau anaknya kepinteran yaa?

Sampai di sini saya nyerah dulu. Mungkin besok si kecil bisa mengerti.
Kalau siang, sebenarnya Khoiry udah nggak pernah minta enen. Sibuk main dan gampang dialihkan pada hal lain. Tapi kalau mau tidur, duh! Emaknya tepok jidat. Digendong nggak mau, dikepok-kepok nggak mau, sambil dengerin murotal nggak mau, sama Abi nggak mau. Pengennya sama Ummi saja. Kalau Khoiry sudah nangis, biasanya saya juga lumer. Nggak tega lihat dia nangis karena pengen enen. Padahal ASI saya semakin berkurang semenjak hamil. Tapi Khoiry teteeeeeep aja mau enen.
Beberapa malam , Khoiry sukses tidur sendiri ditemenin Abi. Begitu udah kelihatan ngantuk, saya ngacir ke kamar mandi, wudhu, kemudian shalat isya. Pas selesai shalat, dia sudah pules saja. Tapi akhir-akhir ini, -seiring dengan bertambah besarnya perut saya- Khoiry maunya nempel terus. Nggak mau jauh-jauh sama Ummi. Main pun harus sama Ummi. Apa-apa Ummi. Siang hari, entah berapa kali dia minta enen. Apalagi, memasuki usia kandungan 8 bulan, ASI saya sudah mulai keluar lagi. Jadi tambah nempel dia.

Akhir-akhir ini, yang membuat saya galau adalah orangtua yang mulai mendesak saya untuk menyapih Khoiry. Bukan tanpa alasan sih, karena saat ini usia Khoiry memang sudah genap 2 tahun dan kehamilan saya semakin besar. Dengan sangat terpaksa saya melakukan adegan tipu-menipu agar Khoiry berhenti enen. Tapi cara itu nggak ada yang berhasil. Pertama, saya coba mengoleskan bubuk biji mahoni yang agak paiht di puting. Begitu enen, Khoiry berhenti sejenak karena merasakan ada rasa yang berbeda, tapi tak berapa lama dia melanjutkan lagi enenya. *haduh ini anak kok tahan ya? Melihat Khoiry kepaitan, saya nangis bombay karena merasa telah menzholimi anak sendiri. Kata ibu saya, bubuk biji mahoni memang tidak terlalu pahit dan lama kelamaan rasa pahitnya bisa hilang.
Kali kedua, saya mengolesi putting dengan lipstik. Pura-puranya berdarah. Begitu melihat puting saya merah, Khoiry nangis sambil lari ke lemari nunjuk-nunjuk tas kecil tempat obat-obatan. Sambil nangis dia bilang, “Mi, obatin! Mi, obatin!” Cara kedua juga gagal. Khoiry sudah mengerti kalau ada anggota tubuh yang luka, ya harus di beri obat.
Kali ketiga, saya menempelkan plester di puting saya. Tapi dengan entengnya dia membuka plester itu kemudian enen dengan lahapnya. “Ini apa, Mi?” katanya dengan cuek.

Setelah kali ketiga ini, saya tobat. Tidak mau lagi menyapih Khoiry dengan cara-cara yang aneh. Saya kembali melakukan WWL walaupun saya tahu prosesnya akan sangat memakan waktu. Dengan berdoa memohon kekuatan dan kemudahan kepada Al Aziz, mudah-mudahan, pas adiknya lahir, Khoiry sudah nggak mau enen lagi.

1 komentar:

  1. Cara yang lembut dan bijak adalah yang terbaik ya mbak, hanya kita seringkali kurang sabar :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming