Moment hari kartini membuat
perbincangan mengenai perempuan kembali mengemuka. Perempuan,
semenjak pertama kali diciptakan, memang selalu menorehkan cerita
yang luar biasa pada bentangan sejarah. Entah itu cerita pilu akan
ketertindasannya atau cerita haru ketika jiwa dan raganya yang penuh
kelembutan mampu mengukir sebuah prestasi yang gemilang.
Sejarah mencatat bahwa dulu perempuan
pernah dipandang sebelah mata. Dijadikan pemuas nafsu semata bahkan
dibunuh karena dipandang aib hingga kehadirannya tak diinginkan. Di
lain kisah kita juga menemukan bahwa ada perempuan-perempuan hebat
yang namanya harum sampai saat ini. Sebut saja Maryam, Asiah,Aisyah,
Fathimah, kita juga mengenal Raden Dewi Sartika, Cut Nyak Dien.
Di Indonesia sendiri, perjuang R.A
Kartini dijadikan acuan pagi kaum feminism untuk terus menggaungkan
isu kesetaraan gender. Faham feminism ini tentu bukan berasal dari
islam, faham feminism berasal dari barat, dimana para kaum
perempuannya merasa tidak puas dengan kondisi mereka saat itu.
Akhirnya mereka berkeinginan setara dalam hal apa pun dengan
laki-laki. Baik di lapangan pekerjaan dan kursi pemerintahan sekali
pun.
Inikah kesetaraan gender? |
Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan
perempuan sama derajatnya dihadapan Allah SWT. Yang membedakan
keduanya adalah ketaqwaannya. Adapun peran yang mereka emban selam
hidup di dunia sudah diatur oleh islam. Kalau laki-laki dan perempuan
memiliki peran yang sama, untuk apa juga Allah menciptakan keduanya
berbeda? Hal ini sudah tentu karena peran keduanya pun berbeda agar
tercipta keharmonisan di muka bumi ini. Laki-laki dan perempuan
diciptakan untuk saling melengkapi. Saling menyempurnakan.
Dalam sebuah rumah tangga, islam
mewajibkan seorang perempuan untuk menjadi ummu warobatul bait (ibu
dan pengurus rumah tangga). Sedangkan laki-laki memiliki kewajiban
untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya. Peran keduanya ini sudah
ditunjang dengan sifat dan karakter dasar yang dimiliki laki-laki dan
perempuan itu sendiri. Laki-laki lebih kuat sementara perempuan
memiliki sifat yang cenderung lembut.
Saya tidak hendak mendiskrediktkan
perempuan yang memilih berkarier di luar rumah. Saya yakin pilihan
tersebut pasti sudah melalui pertimbangan yang masak dan panjang.
Hanya saja jika kita melihat dengan kaca mata islam, kita akan
melihat bahwa peran utama seorang perempuan adalah menghebatkan
suaminya dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang cemerlang.
Islam tak melarang perempuan berprestasi dan berkarya. Silahkan saja.
Tapi dalam koridor dan batas-batas hingga kewajiban utamanya tidak
terlalaikan.
Saya menemukan sebuah postingan tentang
salah satu isi surat R.A Kartini di beranda facebook. Semoga isi
suratnya bisa mencerahkan kaum perempuan tentang makna dari kata
kesetaraan.
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.“ (Surat RA. Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
berikut, saya sisipkan kultweet-nya
Ust. Felix tentang perempuan.
feminisme munculnya dari barat, sebab tidak puasnya wanita dalam sistem kapitalis | bukan dari Islam, karena Muslimah happy woles aja
di barat semua diukur dari materi, maka wanita yang nggak kerja dimarjinalisasi | dalam Islam? taatnya Muslimah yang utama, bukan kerjanya
saat di barat masih menganggap wanita nggak setara sama lelaki | Muslimah dalam Islam sudah meriwayatkan hadits dan mengajar bahasa
saat di barat wanita-wanita kulit hitam jadi budak yang haram dididik | wanita kulit hitam di dalam Islam sudah jadi ibunda para Sultan
Islam menjadi karunia terbaik bagi wanita, mengangkat mereka pada posisi terhormat | bukan hanya dilihat dari lekuk badan atau pemuas nafsu
Islam menjaga kehormatan wanita dengan mengatur agar wanita berkarya sebaik-baiknya | dalam bidang yang Allah berikan baginya kelebihan
Islam menjadikan lelaki sebagai pemimpin dan penanggung wanita | agar wanita dapat hasilkan generasi pemimpin yang taat pada Allah
Islam-lah yang bertanggung jawab dibalik sosok-sosok hebat semisal Khadijah, Aisyah | bunda Imam Syafi'i, bunda Imam Ahmad dan lainnya
Islam juga memberi banyak keutamaan pada ibu, istri, bahkan anak-anak perempuan yang tidak diberi pada bapak, suami, dan anak laki-laki
Islam melindungi kehormatan dan kemuliaan wanita | dengan perintah hijab, dan larangan menuduh wanita baik-baik
Islam mengajarkan sikap al-haya (malu) sebagai perhiasan bagi Muslimah | hingga tinggi dan berharga ia dipandang siapapun
Islam adalah karunia terbaik bagi wanita, dan Allah mencukupkan bagi wanita dengan Islam | karenanya kita bangga dengan Islam!
Seorang Fathimah pun dipandang mulia
bukan karena materinya yang berlimpah. Tapi karena tangannya yang
melepuh setelah seharian menumbuk gandum. (Self Reminder. Aisyah AF)
Jadi ibu rumah tangga? Woles aja ah...
banyak hal yg salah dimengerti dr Kartini. ia tdk sedang menggaungkan feminism, ia hanya mencoba mengangkat derajat kaum perempuan.
BalasHapusKl dulu tugas perempuan adl dapur-sumur-kasur, atau masak-macak-manak, maka oleh sebab kartini (yg sebenarnya tergugah oleh Islam) mk perempuan indonesia skg bs mnikmati apapun spt kaum laki-laki. pengajaran, pekerjaan, hobi, dsb.
hanya yg disayangkan kebanyakan dr mereka kebablasan, sehingga melupakan kodratnya. ditelan oleh gaungnya feminism.
setuju mas dengan komentarnya. terima kasih masukannya :))
Hapussaat ini emansipasi memang diartikan dengan kebebasan yang kebablasan oleh perempuan. padahal kartini memiliki tujuan yang lain saya rasa.
wah.. saya setuju sekali ini. Saya juga telah menulis tips untuk wanita berkeluarga dalam membina karier, di mana terlebih dahulu harus dimulai dengan meminta ijin dari suami.
BalasHapussetelah menikah, bagi seorang istri memang suami yang harus lebih dulu dipatuhi ya Mba :)
Hapus