4 April 2014

Tumbuh Seperti Pohon Singkong


Sebelum pulang kampung ke sumedang, saya berencana ingin membuat warung hidup di halaman rumah. Lumayan untuk menghemat uang belanja dan memanfaatkan sepetak lahan di depan rumah.Tapi setelah sampai di Sumedang, ternyata keadaan di halaman tak memungkinkan untuk berkebun. Ada pohon rambutan besar yang akan menghalangi sinar matahari. Orang sunda menyebutnya hieum. Maksudnya, tanamannya tidak akan tumbuh sempurna karena kurang mendapat sinar matahari. Ya sudahlah, saya hanya bisa pasrah. Akhirnya saya memutuskan untuk menanam singkong saja. Alasannya karena tanaman singkong adalah tanaman yang nggak ribet untuk tumbuh dan simple dalam hal penanaman dan perawatan. Lumayanlah, daunnya buat lalapan.
Singkat cerita, ibu mertua saya yang akhirnya membawakan beberapa batang pohon singkong untuk di stek. Caranya sungguh mudah. Kita hanya perlu menyiapkan batang singkong yang panjangnya kurang lebih 30 cm. Setelah itu, salah satu ujungnya dibuat runcing agar mudah untuk menancapkannya di tanah.

Proses selanjutnya adalah menancapkan batang pohon singkong ke tanah. Ajaib, tanpa pupuk dan tanpa perawatan apa pun, bakal-bakal daun kemudian tumbuh setelah 3 hari ditanam.

berjejer rapi di halaman rumah

Dari pohon singkong ini kita bisa belajar tentang hakikat untuk tumbuh. Maksudnya untuk mengembangkan setiap potensi yang kita miliki agar ketika kita di dunia, kita tak hanya sekedar hidup. Tapi hidup yang benar-benar hidup. Hidup yang menghidupkan.


Tumbuhlah seperti singkong yang bisa tumbuh hanya dengan menancapkan kaki pada tempat berpijak. Tak perlu mencari tempat yang istimewa untuk tumbuh. Tapi tumbuhlah dimana pun kamu berada karena dengan begitu kau akan menjadi istimewa.

9 komentar:

  1. filosopy singkong nya kena banget denga kehidupan kita.......keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih, Mas.
      salam juga dari Sumedang :)

      Hapus
  2. masya Allah, hebatnya filosofinya keren2... ohya lama gak makan singkong. saya suka daun singkongnya klo dimasak. Klo di Jakarta tetangga saya malah nanem bnyk bgd, klo beli tinggal metik hehe.. gak tw skrng mash apa gak, udah lama gak kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren2? kan cuma ada satu ka?
      hhihi.
      suami saya juga suka banget singkong dan daunnya. makanya, nanamlah di depan rumah biar tinggal metik.

      Hapus
    2. HEHE, gak ada lahannya entu masalahnya teh.. depan rumah aja pake pot mepet.. ehhee.. kudu punya lahan dulu he

      Hapus
  3. Quote-nya keren.
    Sebenarnya tidak perlu berada di mana, meski dari dalam kamar pun kita bisa melakukan sesuatu juga yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihiiii. setuju bunda.
      modal duduk dan buka laptop aja ya :)

      Hapus
  4. jadi ingat sama lagunya Koes Plus yang menyatakan bahwa 'tongkat kayu pun jadi tanaman'

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, pas waktu itu posting ini, nyari-nyari lagu apa itu yang ada tongkat kayu tongkat kayunya. lupa. kirain saya lagunya Iwan Fals. hehhe :D

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming