Kasus kekerasan yang
terjadi di baby daycare pertamina beberapa waktu lalu kembali
mencuatkan perdebatan antara working mom vs fulltime mom. Para
fulltime mom seolah mendapat kekuatan baru untuk menyerang working
mom dengan adanya kasus ini. Nyinyir-nyinyiran ala ema-ema pun
kembali terjadi. Beberapa hari setelah mendapat berita tentang
kekerasan di daycare, saya menemukan sebuah gambar yang berisi
percakapan antara kawan lama, dimana yang satu adalah working mom dan
yang satu fulltime mom.
22 September 2014
5 September 2014
Tentang malaikat Kedua dan Air Mata
Sambadi miss mi?
Eaaaa... setelah
lama nggak menyapa lepi, akhirnya kali ini bisa nongol lagi di blog
yang sudah lama nggak keurus. Apa kabar page view? Yaaaa..
garuk-garuk tanah lihat statistik blog yang semakin menggenaskan. Ya
sudahlah, balik lagi ke niatan awal ngeblog untuk ngshare pengalaman
dan ilmu saya yang masih seumprit. Itu saja. Sebenarnya sih, ngarep
juga mudah-mudahan bisa dapet lebih dari itu. :D
Setelah lama
hengkang dari dunia ngeblog, dan Bw-an. Saya bawa kabar gembira
selain kulit manggis yang sudah ada ekstraknya nih. Apa itu? Saya
sudah lahiran loh . Jreng.. jrengg.. . Alhamdulillah. Tanggal 12
Agustus anak kedua saya lahir. Laki-laki. Sudah punya sepasang ya.
Tapi sepasang lagi boleh lah. Hihii. Mudah-mudahan masih kuat
ngedennya. *apa sih?
Inilah sebab
musababnya saya menghilang dan kali ini muncul dengan kantung mata
yang hitam, mata terkantuk-kantuk, badan agak kurus meski nafsu makan
bertambah, dan baju yang sedikit bau pesing. Yah, itulah nikmatnya
mengurus baby. Cape sih, tapi nggak kerasa begitu melihat senyuman si
kecil. *uhuk
Perkenalan babynya
nanti saja ya. Kali ini saya mau memenuhi tantangan seorang sahabat
yang meminta saya untuk membuat sebuah tulisan dengan tema “Air
mata tanda kasih sayang Allah pada perempuan”. Udah kayak lomba
menulis aja pake tema-temaan segala. Kalau ada hadiahnya makin cihuy
nih :P
Tahap selanjutnya
saya berpikir, apa yang mau saya tulis? Bagaimana aktualisasinya
dalam kehidupan seorang perempuan kalau air mata itu tanda kasih
sayang Allah untuknya?
Mungkin karena hati
seorang perempuan itu lembut dan mudah tergores kali ya? Jadi,
seperti halnya betadin, air mata ini berfungsi untuk mengolesi hati
perempuan yang luka tersebut biar cepet sembuh, atau at least ngurangin rasa sakitnya.
Tapi belakangan ini,
saya sering ketawa sendiri ketika menyadari betapa pintar sekaligus
kejamnya saya. Masih ada hubungannya dengan air mata. Pernah suatu
malam, si sulung nangis-nangis nggak jelas. Meraung-raung di tengah
keheningan malam. Susah banget didiemin. Dikasih itu ini nggak
mempan, ditakut-takutin malah tambah kenceng, digendong malah
meronta-meronta. Saking kencengnya dia nangis, si debay pun ikutan
bangun dan nangis pula. Saya gendong dan nenangin dedenya dulu.
Mungkin karena cemburu, si teteh malah makin menjadi nangisnya.
Abinya juga kewalahan. Kesel lah saya. Sebagai perempuan dengan kadar
kesabaran yang terbatas, saya meradang, untung nggak sampe keluar
tanduk merah. Siapa yang bilang mengurus baby dan batita bersamaan
itu mudah? Ala maa susah pooool. Butuh kesabaran ekstra dan ilmu yang
banyak. Mungkin karena marah, ngantuk dan rasa lelah yang
berakumulasi, nangis bombay lah saya. Nunduk di kasur sambil
sesenggukan. Tapi setelah itu si teteh diem di gendongan abinya.
Mungkin kasihan kali ya lihat umminya yang kacau balau.
Setelah kejadian
itu, setiap si teteh rewel dan nggak bisa dinasihatin, saya suka
pura-pura nagis. Hahhah :D karena setelahnya si teteh pasti nurut dan
nggak rewel lagi. Ibu macam apa saya?
Ini hanya siasat
saja. Daripada marah-marah nggak jelas kan ya. Seperti kata Mamah
Marshanda, mendidik dan membesarkan anak itu nggak mudah. Ada aja
dramanya. Si kakak yang mudah nangislah atau si debay yang sering
banget pipis. Hihi. Tapi selalu saja ada yang bisa dikenang dibalik
semua kerusuhan yang mereka buat. Kadang saya dan suami suka
ketawa-ketawa berdua begitu si teteh selesai nangis dan tertidur
pulas dengan sendirinya. Kok bisa gitu yaa. Kadang sambil
tuding-tudingan pula nurun dari siapa sifat cengengnya.
Si teteh itu a.k.a
Khoiry meskipun cengeng dan emosinya meledak-ledak, tapi daya
ingatnya kuat banget. Sudah hapal warna-warna utama yang suka ada di
pensil warna. Hapal huruf hijaiyah sampai tsa. Hapal nama-nama
binatang., lagu-lagu, sedikit surat al fatihah. Intinya, kalau
disuruh ngapalin, si teteh deh jagonya. Meskipun pemalu sama orang
baru, tapi dia aslinya cerewet, beda sama Ummi dan Abinya. Apa-apa
dikomentarin dan ditanyain. Si teteh ini nggak bisa dibentak, kalau
dibentak malah menjadi, dia lebih masuk dinasihatin dengan cara yang
halus, termasuk dengan air mata. *nggak pake buaya.
Kalau si debay belum
kelihatan karakternya. Cuman motoriknya bagus banget. Usia satu hari
sudah bisa ngemut jari. (karena nggak mau dibedong). Anteng pula dia,
tidur mulu hobby-nya. Yeee namanya juga bayi. Hihi ;p
Tapi mommy, kalau
diinget-inget lagi, bukankah dulu kita yang meminta untuk memiliki
mereka? Anak-anak kita? Setelah Allah mengabulkan doa kita, apa kita
pantas menyia-nyiakan mereka begitu saja? Meskipun berat rasanya,
cape dan sebagainya, tapi ya itulah kewajiban kita sebagai seorang
ibu. Kalau menjadi seorang ibu mudah, tentu nabi Muhammad tak akan
mengatakan kalau surga itu di bawah telapak kaki ibu. Right? Butuh
perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Saat ini mungkin
anak-anak masih sering merepotkan kita. Mandi harus dimandiin, makan
disuapin, minta digendong, selalu minta ikut kemana pun kita pergi,
tapi suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa dan jauh dari kita,
kita pasti merindukan saat-saat mereka tidur dipelukan kita, pergi
berdua dengan mereka dan merindukan saat dimana mereka membutuhkan
kita. Jadi, seharusnya tak sedetikpun kita menyia-nyiakan waktu
dengan mereka.
*nangisjaim
Balik lagi ke air
mata. Saya rasa air mata tak hanya tanda kasih sayang Allah untuk
perempuan, tapi untuk semua manusia. Coba lihat hadits ini.
1) Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada
tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam
naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu
: 1. pemimpin yang adil, 2. pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada
Allah (selalu beribadah), 3. seseorang yang hatinya senantiasa
bergantung pada masjid-masjid (sangat mencintainya dan selalu melakukan
shalat jamaah di dalamnya), 4. dua orang yang saling mengasihi karena
Allah (keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah), 5. seorang
laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang punya
kedudukan lagi cantik, tetapi dia mengatakan, “Aku takut kepada Allah
!”, 6. seseorang yang bersedeqah dengan merahasiakannya sehingga tangan
kanannya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya, 7. dan
seseorang yang ingat kepada Allah diwaktu sunyi, sehingga meleleh air
mata dari kedua matanya”.
[HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh itu baginya. Adapun pada lafadh Bukhari disebutkan : Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedeqahkan tangan kanannya]
[HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh itu baginya. Adapun pada lafadh Bukhari disebutkan : Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedeqahkan tangan kanannya]
2) Dari
Ibnu Abbas RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada
dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis
karena takut kepada Allah, dan mata yang bermalam berjaga di jalan
Allah”. [HR. Tirmidzi, ia berkata Hadits hasan gharib].
![]() |
| credit |
Yah, dengan menangis
karena takut pada Allah, Allah akan memberikan naungan dan menjauhkan neraka dari kita. Nggak
main-main ya ganjarannya. Hanya saja, nangis di sini bukan sembarang
nangis kali ya. Setiap orang bisa menangis, tapi menangis karena takut padaNya? Seringnya malah kita lalai. Nangis selesai sholat malah
ngenes karena belum punya ini itu, belum bisa ini itu dan karena
masalah hidup yang sepele. Woy, siapa itu. Nunjuk sendiri.
Jadi, yuk mari kita
nangis. *eh.
Setelah nangis, kemudian lebih berhati-hati dalam berbuat karena sadar Allah memperhatikan kita kapan pun dan dimana pun. Cari tahu dulu apakah perbuatan ini merupakan perbuatan yang dilarangNya atau tidak. Mungkin orang seperti ini yang
akan Allah jauhkan dari neraka. Kalau setelah nangis kita masih sembrono dalam berbuat, yah apa atuh itu mah?
4 Agustus 2014
Pelajaran yang Terselip di Lantai Rumah dan Hujan
Pagi kemarin saya
mendapat pelajaran yang luar biasa ketika mengepel teras rumah. Bukan
iklan pembersih lantai loh ya. Tapi sebuah pelajaran yang luar biasa
tentang kehidupan. (yaampunseriusamat) kok bisa?
Musim kemarau
seperti sekarang, saya jarang sekali ngepel teras rumah. Paling
seminggu sekali, itu pun kalau lantainya sudah terlanjur kumel
(ketahuanjoroknya!) Musim kemarau, teras depan paling hanya dipenuhi
debu-debu yang dibawa angin. Jadi bisa dibersihkan hanya dengan
menyapunya. Berbeda situasinya kalau musim hujan, setiap hari saya
harus ngepel. Bisa sampai dua kali sehari atau tiga kali sehari.
Bukan karena sok rajin, tapi rasanya nggak nyaman kalau teras rumah
becek, penuh cipratan tanah dan jejak-jejak kaki ayam atau kucing.
(kalaudikampungayamtetanggaberseliweran)
![]() |
| credit |
31 Juli 2014
Nikah Beda harokah
Ashobiyah atau
bangga terhadap golongan sendiri semakin menjamur di tengah-tengah
masyarakat kita. Merasa bangga terhadap golongan memang tidak
sepenuhnya keliru. Hanya saja, jika perasaan ini sudah berlebihan dan
berbuntut pada memandang remeh kelompok lain, melakukan segala cara
untuk menjatuhkan kelompok lain, dan membela mati-matian kelompoknya
sekalipun kelompoknya salah, maka hal ini tidak benarkan.
Belakangan, faham
ashobiyah ini mulai menjangkiti kelompok-kelompok atau harokah islam.
Tujuan dibentuknya atau berdirinya harokah-harokah islam sangat mulia
yaitu ingin mengembalikan kehidupan yang berlandaskan sistem islam
maupun sebagai wadah bagi umat islam untuk menuntut ilmu agama. Hanya
saja, faham ashobiyah membuat harokah-harokah islam terkotak-kotak
dan cenderung tidak mau bersatu. Seringnya, malah menganggap
harokahnya yang paling benar, hingga menafikan keberadaan harokah
lain. Lebih parah lagi, menganggap harokah lain melenceng dari ajaran
agama dan berani mengkafirkan harokah lain.
Dengan adanya
ashobiyah ini, tujuan dibentuknya sebuah harokah menjadi sedikit
samar. Umat islam kebanyakan (yang tidak menjadi anggota harokah
manapun) kerap menilai bahwa justru harokah-harokah islamlah yang
memecah belah umat. Umat jadi bingung dan akhirnya tidak tertarik
untuk mempelajari islam dengan bergabung pada sebuah harokah.
Padahal membentuk
sebuah kelompok atau harokah yang menyeru kepada kebaikan dan
mencegah yang munkar adalah sebuah kewajiban umat muslim sebagaimana
yang tertera dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 104,
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى
الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ“
Dan hendaklah ada di
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)
Sungguh sayang, jika
dalam pelaksanaannya justru malah mencoreng-moreng wajah islam itu
sendiri.
![]() |
| credit |
17 Juli 2014
Muhasabah Ramadhan : Prioritas Amal
Beberapa hari lalu, saya dan suami mengalami kejadian yang lucu. Gimana nggak lucu coba, bada ashar saya suk sekan masak untuk menu buka puasa. Menunya pare balado, tumis bawang kocomon (bawang merah tapi ada daunnya, kalau bahasa Indonesianya apa ya? :p) sama goreng tempe balut tepung. Awalnya, hari ini nggak ada niatan buat masak. Pengennya libur masak dulu. Untuk buka puasa, wesss beli saja lauk yang sudah jadi. Hahahha lumayan ngirit gas. Biasanya menjelang lebaran, elpiji suka langka dan muahal banget harganya. *alasan. plaaaaak. Tapi karena suami beli sayuran itu dengan mandirinya, terpaksa deh, saya masak. Lagi mau makan pare sama bawang kocomon, godanya sambil senyum-senyum.
Dimana dong lucunya? hihihi, sabar pemirsah. Lucunya itu adalah pas kami selesai shalat magrib berjama'ah. Biasanya, selesai shalat kami langsung makan, tapi begitu lihat pemanas nasi, kok nggak nyala ya? oalaaaah setelah dilihat, ternyata saya lupa masak nasi. Lucu kan ya? Lucu aja deh. Nasi tinggal sisa sedikit. Sisa makan sahur dan makannya si kecil. Aduh, ngegadoin pare dongs. Mana pahit. Akhirnya, kami putuskan untuk membagi dua nasi yang sedikit itu..
Sedih jadinya. Sebagai orang sunda, makan tanpa nasi itu berasa jalan tanpa alas. eh. Wes pokoe, nggak enak lah, sekalipun lauknya bikin ngiler.
Langganan:
Postingan (Atom)



