12 November 2013

Nikah Muda, Enak Nggak Sih?

Nikah muda itu enak nggak sih?

Pertanyaan ini yang kerap tersirat dan tersurat dari teman atau orang yang kenal saya, setelah saya menikah. Hhmm, kalau ditanya enak atau nggak jawabannya relatif. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Dari sisi kesempurnaan agama, nikah muda itu tentu enak karena di usia yang masih muda separuh agama kita telah sempurna.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، نَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ مَخْلَدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ، نَا عِصْمَةُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ، نَا زَافِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ بْنِ يُونُسَ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»

Muhammad bin Musa menuturkan kepadaku, Muhammad bin Sahl bin Makhlad Al Isthakhri menuturkan kepadaku, Ishmah bin Mutawakkil menuturkan kepadaku, Zafir bin Muslim menuturkan kepadaku, dari Israil bin Yunus, dari Jabir, dari Yazid Ar Raqqasyi, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘barangsiapa menikah, ia telah menyempurnakan setengah agamanya. maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya‘”

 Dari sisi ibadah, juga enak tuh. Sebagai suami atau pun istri kita punya ladang pahala yang baru setelah menikah. Ibadah juga jadi tenang karena tak memikirkan lagi siapa ya tulang rusuk saya? Atau siapa ya belahan jiwa saya? Cielaaa ini mah kebimbangan anak-anak galau.

Sisi positif yang lain, secara otomatis kita terhindar dari zina hati, zina mata, zina pendengaran, zina penciuman, zina perabaan, *tambah ngaco nih tulisan. Yah.intinya kita bisa menjada keiffahan kita karena sudah punya seseorang yang halal, inget ya yang HALAL, untuk menyalurkan naluri nau (naluri melestarikan keturunan-tertarik kepada lawan jenis termasuk di dalamnya-) kita.

Apalagi setelah punya anak, wah kebahagiaannya jadi berlipat-lipat ganda, double, triple deh pokoknya. Saya menulis di buku Maka Menikahlah!

Saya harus bahagia dengan pernikahan ini. Di saat teman-teman yang lain masih disibukkan dengan kesendirian, saya tidak. Di saat teman-teman yang lain terlena dengan gemerlap masa muda, saya dibuat terlena akan janji-janjiNya untuk seorang istri solehah. Dan di saat saudara-saudara saya yang sudah dewasa belum menikah, saya justru menikah di usia saya yang masih muda.

Yah, menikah adalah sesuatu yang harus kita syukuri.


Setelah yang enak-enak, kita cicip yang asem, pahit, getirnya yu!

Setiap pilihan, baik atau buruk, pasti ada resiko yang menyertainya kan? Termasuk menikah. Nah, jadi apa nggak enaknya dari menikah muda?
Sebenarnya perkara nggak enak ini bisa disulap jadi enak kalau kita bisa menikmati dan mensiasatinya. Cuma kadang ego manusia nggak bisa diredam dengan mudah, ya? *nyari alibi

Di usia saya yang masih muda (iya gitu? Hahhha) 21 tahun sekarang, banyak hal yang bisa dilakukan gadis seumuran saya, tapi saya nggak bisa melakukannya. Ya, misal jalan-jalan bareng sohib semaunya, kongkou-kongkou, mejeng atau apalah. Sementara saya sudah disibukkan dengan suami, anak, dan tugas domestik di rumah. Ini nih, yang kadang bikin nyesek. Berasa pengen kabur aja :D
Tapi seperti yang saya bilang, perkara nggak enak ini bisa hilang kalau kita bisa menikmatinya dan mensiasatinya. Misal dengan ngajak suami jalan bareng atau melakukan hal-hal konyol berbau anak muda dengan suami. Kan romantis tuh! Suiiit suiit

Disamping itu, di usia kita yang muda, kita juga harus siap dengan tanggung jawab seorang istri dan ibu yang tidak sedikit. Harus pinter-pinter bagi waktu untuk melaksanakan kewajiban dan keinginan kita yang bisa muncul kapan saja.

Apa lagi ya?
Menikah itu bukan tentang aku dan kamu. Tapi tentang kita. *agak lebay nih tulisan.
Tapi ini beneran loh, setelah menikah kita harus bisa meredam ego yang terkadang atau bahkan sering bertentangan dengan keinginan pasangan kita. Menyatukan dua kepala dan badannya dalam satu rumah tentu bukan hal yang mudah. Di sinilah butuh ke-saling pengertian dari kedua belah pihak, baik suami atau istri, agar sebisa mungkin meramu perbedaan menjadi sebuah anugerah.

Sudah deh.
Jadi inti tulisan ini apa dong?

Hemat saya, menikah itu, mau muda atau tua, yang paling penting adalah adalah kesiapan jiwa dan mental kita.
Kalau sudah merasa siap dan ada calonnya, kenapa harus ditunda?

10 komentar:

  1. aduuuh baca ini jadi ngiri nih.... biar segera menyusul menyempurnakan separuh agama

    BalasHapus
  2. kalau menurut saya menikah muda itu enak :)
    Insya Allah berbagai keberkahan akan mengikuti kalau niatnya tulus untuk beribadah ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Aaamiin :))
      btw, saya juga asli sumedang loh mas

      Hapus
  3. subhanaloh keren keren.. 21 tahun uda nikah :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di tempat saya, rata-rata emang pada nikah muda, bahkan ada yg umur 15 tahun sudah nikah

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejakmu di sini :)
Thanks for coming